Bagaimana Bisa Kita Berharap pada Allah yang Meninggalkan Kita? (Ratapan 3:25)

 

Yeremia tetap mengakui bahwa Tuhan tidak akan  meninggalkan umat-Nya, terlepas dari sebesar apapun rasa sakit dari situasi mereka. Sebaliknya, umat-Nya lah telah meninggalkan Dia. Yeremia, nabi yang menangis, juga disebut nabi harapan, karena ia meramalkan hari ketika Tuhan akan memerintah di tengah-tengah memulihkan, memperbaharui dan mendamaikan orang-orang yang akhirnya kembali kepadanya.

Yesus tahu paradoks ini antara ditinggalkan dan harapan. Di tengah penderitaan dan kematian di kayu salib, dia menangis, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat 27:46). Namun Yesus juga tahu bahwa ia akan dibangkitkan pada hari ketiga, membuka gerbang kehidupan kekal bagi semua orang percaya. Keputusasaan salib itu telah menjadi karunia hidup untuk orang-orang yang berdosa.

Pengabaian, kesedihan, perjuangan dan rasa sakit – semua ini bersifat sementara. Keutuhan, penyembuhan, sukacita dan damai yang permanen, karena mereka adalah bagian dari sifat Allah. Itulah yang menopang orang percaya melalui masa-masa sulit. Meskipun Yeremia berduka atas kehancuran Yerusalem, ia tahu Allah akan menang.

 

Leave a Reply